BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 26 Maret 2011

Cerita Thomas 'GIGI' Lepas dari Ketergantungan Narkoba

Pergaulan anak band kerap mendapatkan stigma negatif, antara lain berkaitan dengan isu penggunaan narkoba. Sang pembetot bass grup band GIGI, Thomas Ramdhan juga pernah terjerat barang haram tersebut. Seperti apa cerita Thomas soal ketergantungannya?

Saat GIGI menggarap album ketiganya yang bertajuk '3/4' pada 1996, Thomas mengaku mengkonsumsi heroin. Gara-gara dirinya yang ketergantungan narkoba, banyak pihak yang menutup diri untuk kerjasama dengan GIGI.

Akhirnya bassis berusia 44 tahun itu memutuskan untuk keluar dari band pada November 1996. Kondisi GIGI saat itu hampir bubar karena selain Thomas, drummer GIGI saat itu Ronald Fristianto juga hengkang.

"Gue pernah dulu saat ketagihan heroin di album ketiga dan keempat. Ke mana-mana tidak diterima, semua pada nutup karena ada gue. Semua itu tertuang di lagu 'Hilang'," kenang Thomas saat ditemui usai acara peluncuran album 'Sweet 17' GIGI di Barcode, Kemang, Jakarta Selatan,
Saat itu, Thomas sebenarnya lelah mengkonsumsi narkoba. Dengan tekad yang kuat untuk sembuh, akhirnya ia memutuskan untuk direhabilitasi.

Setelah dirinya sembuh, pada 22 Maret 1999 akhirnya Thomas kembali ke GIGI. Armand dan Dewa Budjana pun bangga dengan temannya yang mampu lepas dari jerat narkoba.

"Kita bangga sama Thomas bisa keluar dari lingkup narkoba dan kita juga bangga Thomas bisa gabung di kita lagi," ucap Armand.

Produsen Sabu Rumahan di Kalideres Panen Rp 18 M

tersangka produsen pabrik sabu rumahan yang digerebek di Kalideres, Jakarta Barat, baru 3 bulan memproduksi sabu. Selama 3 bulan beroperasi sudah menghasilkan uang Rp 18 miliar.

"Barang bukti yang diamankan sabu 20 gram, sabu kristal 195 gram, sabu cair 200 ml, timbangan, dan tabung,"

Husman kemudian dijerat pasal 113 ayat 2 subsider pasal 112 ayat 2 UU No 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman mati.


Telan Sabu Rp 2,3 M, WN Nigeria Ditangkap

Meski berulang kali tertangkap, modus menelan sabu terus saja dilakukan para kurir narkoba. Kali ini seorang WN Nigeria yang menelan sabu 1.540 gram. Petugas Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta pun memaksa pelaku mengeluarkan sabu di perutnya itu.

WN Nigeria, BJN (51) dibekuk setelah kedapatan berusaha menyelundupkan 106 sabu butiran dengan berat kotor 1.540 gram senilai Rp 2,31 miliar. Dia datang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dengan Thai Airways TG 433 Bangkok-Jakarta.

Saat diinterogasi, BJN mengaku membawa narkotika dengan cara ditelan sehingga petugas langsung mengamankan dia. Pengeluaran kapsul tersebut tidak sekaligus namun melalui proses yang lama. Dari perut BJN didapatkan 106 butir sabu dengan berat kotor 1.540 gram dengan perkiraan nilai barang sebesar Rp 2,31 miliar.

Tim Sat Narkoba Polresta Bandara Soekarno Hatta dibantu Bea Cukai melakukan pengembangan dan menangkap seorang wanita berinisial DA sebagai penerima barang tersebut, di sebuah hotel di sekitar Bandara Soekarno Hatta. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium Balai Pengujian dan Identifikasi Barang, Ditjen Bea Cukai di Cempaka Putih, diketahui bahwa bubuk putih tersebut positif Methamphetamine.

Menurut pengakuan pelaku, dia menelan narkotika tersebut di Kamerun pada 19 Maret 2011 lalu atas perintah seorang WN Nigeria lain berinisial OB. Pelaku bersedia membawa barang tersebut karena dia seorang pengangguran dan dijanjikan akan diberi uang sebesar US$ 5.000 atau sekitar Rp 45 juta dan telah diberikan sebesar USD 2.000 atau sekitar Rp 18 juta. Setelah tiba di Jakarta, pelaku diperintahkan oleh OB untuk pergi ke sebuah hotel di daerah Mangga Besar, Jakarta dengan menggunakan taksi. Nanti, akan ada orang lain yang akan mengambil narkotika tersebut. Untuk pengurusan visa Indonesia, yang diurus di Nigeria, pelaku menyatakan bahwa kunjungan ke Indonesia atas undangan sebuah acara pameran furniture di sebuah tempat di Kemayoran, Jakarta.

Mabes Polri Gerebek Pabrik Sabu di Apartemen Kelapa Gading

‎​ Direktorat IV Narkoba Bareskrim Mabes Polri menggerebek sebuah unit kamar di Apartemen Condominium, Kelapa Gading, Jakarta Utara yang ditengarai sebagai home industry sabu. Produksi di tempat tersebut diperkirakan mencapai omset Rp 2 miliar perminggu. Tim yang diketuai oleh AKBP Reza Celvian Gumay itu menggerebek tersangka di kamar 4 lantai 10 apartemen tersebut.

Di lokasi, polisi mengamankan seorang tersangka berinisial AR. AR merupakan residivis yang baru keluar dari LP Nusakambangan atas kasus serupa. Pabrik tersebut ditengarai telah beroperasi selama 6 bulan. Adapun omset yang dihasilkan bisnis haram tersebut mencapai Rp 2 miliar perminggu.

Di lokasi, polisi menyita barang bukti berupa bahan-bahan pembuat sabu di antaranya redpospor 6 kg, iodin 2 ons, carkol aktif 1 ons, cairan metanol 1 jirigen, tiner 2 jirigen, 1 jiregen soda api cair, 1 botol HCl, 2 botol iodin cair, 2 kompor untuk memasak sabu, 1 boiling, 3 destiler, 3 gelas ukur, 2 tabung butner, 1 tabung penyaring, 2 termometer, 2 gulung selang plastik, 4 wadah plastik kecil, timbangan elektrik, plastik klip ukuran besar dan satu gulung almunium voil.

Selasa, 01 Maret 2011

Mahalnya harga sepeda listrik membuatnya rawan dicuri. Namun sepeda listrik yang satu ini kemungkinan besar akan membuat Anda merasa aman. Dilengkapi WiFi, sepeda ini bisa dipantau dari jarak jauh dan memudahkannya dilacak apabila dicuri.

Wow, Komputer Seukuran Ujung Pulpen!


Para ilmuwan di University of Michigan menciptakan sistem komputasi pertama dalam ukuran milimeter. Saking mungilnya, komputer berbentuk seperti chip ini bisa muat di ujung pulpen!

Meski kecil, jangan remehkan kemampuan komputer bernama Phoenix ini. Tubuhnya yang berukuran hanya satu milimeter kubik ini bisa menampung data selama satu pekan.

Mengapa begitu kecil? Rupanya Phoenix dirancang untuk ditanamkan pada sesuatu yang ukurannya juga sangat kecil, salah satunya mata manusia. Saat ini, Phoenix tengah diujicoba untuk memonitor tekanan mata pada pasien penderita glaukoma.

"Ini adalah sistem komputasi berskala milimeter pertama yang sangat lengkap," kata Dennis Sylvester yang memimpin pengembangan Phoenix,

Di dalam Phoenix terdapat mikro prosesor berdaya rendah, sensor tekanan, memori, baterai setipis film, sel surya dan radio wireless dengan antena yang bisa menyampaikan data ke perangkat pembaca eksternal yang dipasang dekat mata.


Mengenal Rumah Tradisional Sumba

Di pulau Sumba, rumah - rumah tradisional masih mudah untuk ditemukan. Terutama di wilayah kampung - kampung adat. Rumah - rumah yang terbangun dari kayu, papan dan bambu menjadi sebuah ciri khas masyarakat disana. Bagi mereka, rumah bukan hanya sebagai tempat tinggal saja. Tapi, juga memiliki fungsi sebagai pusat kehidupan dan upacara adat mereka.

Rumah - rumah itu dibangun dengan cara tradisional, tanpa menggunakan paku sama sekali. Mereka menggunakan rotan yang diambil dari hutan untuk menautkan bagian - bagian rumah. Penduduk Sumba percaya bahwa, rumah mereka adalah rumah yang diperuntukkan bagi tiga alam. Bagian atap atau langit - langit rumah yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan hasil panen adalah tempat berkumpulnya para roh leluhur yang sudah pergi mendahului mereka. Bagian rumah yang memiliki kamar - kamar adalah bagian dari tempat hunian manusia yang masih hidup. Bagian tiga yang dibawah panggung rumah adalah bagian tempat mereka memelihara ternak dan tempat berkumpulnya roh - roh jahat.

Di dalam rumah tersebut memiliki empat tiang utama yang menyimbolkan sebagai utara, selatan, timur dan barat. Di tengah tiang - tiang itu akan dibuat sebuah tungku perapian yang menyimbolkan sebagai matahari. Tungku ini adalah sumber kehidupan bagi penghuni rumah, karena berfungsi sebagai dapur untuk membuat makanan bagi seluruh keluarga.

Pria dan wanita penghuninya pun memiliki ruang sendiri - sendiri. Yang dimana satu sama lain tidak boleh memasuki ruang yang bukan areanya. Ada jarak yang harus ditaati meskipun masih dalam satu ikatan keluarga.

Di bagian depan rumah yang seperti teras bambu, difungsikan sebagai tempat berkumpulnya ketika santai ataupun tempat menerima tamu. Dinding bagian luar akan selalu dihiasi dengan tanduk - tanduk kerbau dan taring - taring babi yang berasal dari penyembelihan ketika upacara adat dilakukan. Terkadang jumlah tanduk dan taring mencampai ratusan buah. Ini juga menandakan sebagai simbol gengsi martabat keluarga penghuni rumah.